Gen Z Part 2

Pelan-Pelan yang Penting Waras (Part 2)

Ditulis oleh Anonim pada 08 Sep 2026, 20:25
👁️ 17 Pembaca
Perspektif ID Feature

Pelan-Pelan yang Penting Waras (Part 2)

Sumber Foto: Dokumentasi Perspektif ID (Anonim)
📚 Daftar Bagian (Part) Cerita
2 Bagian
Part 1 Part 2
Dua minggu berlalu sejak obrolan di kedai kopi bawah gedung itu. Kawasan BSD kembali diguyur hujan gerimis ketika Saka menatap layar monitor kantornya. Di samping mejanya, cangkir kopi saset yang biasa menemani sore hari kini digantikan oleh segelas air hangat.

Rara berjalan mendekati kubikel Saka sambil membawa selembar lembar brief cetak dari klien. Kali ini, tidak ada raut muka muram atau kebiasaan doomscrolling LinkedIn seperti sebelumnya. Ponselnya tersimpan rapi di dalam tas.

"Sak, lu inget ide konten TikTok tentang realitas kerja agensi yang sempat kita bahas minggu lalu?" tanya Rara dengan mata berbinar.

Saka menoleh, melepas earphone-nya. "Yang konsepnya 'Ekspektasi vs Realita Gen Z di Dunia Kreatif' itu? Jadi lu ajukan ke tim?"

"Jadi!" jawab Rara penuh semangat. "Gue coba pitching ke supervisor kemarin. Awalnya sempat deg-degan takut dibilang nggak profesional. Tapi ternyata, bos kita malah suka karena konsepnya relate banget sama audiens sekarang. Komentar di video itu langsung naik dalam dua jam pertama, tanpa perlu budget iklan sepeser pun."

Saka tersenyum lebar, ikut merasakan kelegaan temannya itu. "Tuh kan, apa gue bilang. Kadang kita terlalu sibuk minder sama pencapaian orang lain di media sosial, sampai lupa kalau suara autentik kita sendiri punya nilai yang jauh lebih jujur."

"Betul banget," ujar Rara sambil menarik kursi kosong di sebelah meja Saka. "Gue juga udah mulai kurangi buka LinkedIn kalau pas lagi capek. Ternyata hidup jauh lebih tenang waktu kita berhenti membandingkan highlight orang lain dengan proses dapur kita sendiri."

Ponsel Saka di atas meja mendadak berdering—notifikasi dari grup WhatsApp kantor yang menuntut revisi mendadak untuk proyek hari Senin. Dulu, notifikasi seperti ini akan langsung membuat dadanya sesak dan merusak akhir pekannya. Namun, kali ini Saka hanya melirik sekilas layar ponselnya, lalu menatap Rara.

"Gimana, mau lanjut nongkrong di kedai kopi bawah sambil bahas konsep konten Part 2?" ajak Saka sambil merapikan dokumennya.

Rara tertawa ringan, meraih jaketnya. "Yuk! Tapi kali ini giliran lu yang traktir americano-nya."

Mereka melangkah keluar ruangan bersama-sama, membiarkan dering notifikasi kantor itu tertinggal di belakang. Di luar, lampu-lampu kota BSD memantulkan cahaya gemerlap di atas aspal basah, membuktikan bahwa langkah kecil yang konsisten jauh lebih berharga daripada sekadar berlari tanpa arah.
Suka dengan artikel/cerita ini? Dukung penulisnya!
🤍 Suka 0

💬 Diskusi & Komentar (0)

Silakan Masuk / Login terlebih dahulu untuk ikut menulis komentar.
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
← Part Sebelumnya
← Kembali ke Beranda